pinturumah - Penjualan properti di Indonesia diyakini membaik pada tahun 2010, karena dipicu oleh beberapa indikator yang meningkatkan daya beli pasar saat itu.
"Pada saat itu peningkatan penjualan properti akan mencapai kenaikan signifikan yakni 50 persen dari realisasi penjualan hingga akhir tahun ini," kata Pengamat Properti Nasional Matius Jusuf di Surabaya.
Keyakinan itu, jelas dia, disebabkan mulai turunnya suku bunga kredit oleh sejumlah perbankan umum. "Hal tersebut menjadi salah satu indikator membaiknya pertumbuhan penjualan properti nasional," ujarnya.
Ia menilai, sinyal positif ini sudah terlihat sejak turunnya BI Rate secara perlahan menjadi 6,5 persen, dari level sebelumnya yang tembus 9,5 persen.
"Penurunan BI Rate itu, akan memacu suku bunga bank kredit di level antara 9 persen hingga 12 persen atau di bawah suku bunga kredit saat ini 14 persen," katanya.
Berkaca dari situasi itu, ia meyakini, pencapaian penjualan properti pada akhir tahun ini bisa meningkat 15 persen, dari posisi tahun lalu. Faktor lain yang menyebabkan penjualan properti tumbuh signifikan, adalah semakin membaiknya kondisi perekonomian di Indonesia pascakrisis finansial global.
"Apabila di negara lain pertumbuhan ekonominya pada tahun ini masih negatif, kini Indonesia sudah tumbuh sekitar 4,29 persen pada semester I/2009," katanya.
Bahkan, ia mengemukakan, harga komoditas yang kian membaik seperti harga tanaman buah segar (TBS) kelapa sawit Rp1.500,00 per kilogram, juga menjadi indikator perbaikan ekonomi nasional.
"Di samping itu, membaiknya ekonomi juga terlihat dari sektor finansial," katanya.
Ia menambahkan, kini Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berada di posisi 2.300-an. Padahal, dari awal tahun ini tembus 1.100-an. Kondisi itu menunjukkan bahwa kepercayaan pasar dalam menanamkan modalnya ke Indonesia sudah mulai pulih.
"Hal tersebut juga ditunjang oleh kemudahan pengambilan kredit di antaranya Kredit Kepemilikan Rumah (KPR), Kredit Kepemilikan Apartemen (KPA), dan kredit konstruksi," katanya.